untukmu (kawan) …

Terindumu…
Aku ingin membuatmu bisu kembali,
Bernyanyi lagu mimpi kembali,
Mengawang dan mengharu kembali,
Memasak beras merah kembali,
dan kau menjadi miliku kembali,

Petang akan selalu datang,
Menyambut hati-hati yang sunyi,
Mengelus kerut dahi, kemudian membasuh embun dalam luapan emosi..
Pikirku besok akan usai,
Semampai dan menari-nari dalam bingkai imaji.
Kemudian berdansa didepan dunia…

Ternyata aku selalu salah sangka…

Advertisements

sudah…

Menginginkan membuang keluh adalah salah, kesah dan tak usah…
Kawatirkan matahari terbit itu perlu,
untuk mencipta hangat darah yang penuh sumpah serapah…
sampah…
Tak lelah mendengar ampun,
Kau ataukah aku yang (seharusnya) jadi raja?
Yang memimpin istana cita-cita nan nyata…
Yang memerintah rasa dan asa…
Aku bingung harus menyembah pada siapa,
Pada diri yang berdarah dan buta arah,
Atau pada diri yang ragu dan penuh candu…

menipu ragu…

memimpimu adalah berkah…
menimang kabut dalam senja gerimis,
melukis matahari yang terengah-engah meniup angin yang basah,
hingga berpeluh, dan matanya basah.
Harusnya bukan kesungguhanku yang jadi alasan,
harusnya cukup kamu,
yang meretas jemari menjadi sanubari, mengusap angkuh merengkuh berpeluh…
Maafku tak akan menunjukkan berani,
Pahamku tak akan menunjukkan belati.
Hingga sesuatunya tak akan sanggup lagi.
Berdiri.