no title

miss it . . .

Advertisements

semerbak duri

Menunggu sabtu candu,
malam minggu,
Aku rindu…
Sudah bermalam-malam minggu yang lalu,
Ucapmu dengan nada sendu,
Aku rindu…
Kerendahan kalbumu yang tak pernah ragu,
Aku rindu…
Mulut kecilmu yang selalu membisu,
Aku rindu…
Kerinduan rindumu yang selalu merdu,
Aku rindu…

gelagah wangi

Cintaa..
Kau kah yang aroma bunganya hilang itu?
Atau kah hidungku yang tertukar belutru?
Berantakanku bukan sebabmu,
Barantakanmu baru sebabku,
Aku hilang bersama gelang-gelang
Sambil menunjuk bintang,
yang sama sekali tak terang
Kemudian perang dengan awang-awang…
Aku bukan putus asa lagi,
Sudah lelah berlari,
Mencari nasi,
Basi…

Gairah

Sudah lama sekali sewaktu itu…
Bumi mengharu sewaktu hujan…
Langit menahan tangis sewaktu kemarau panjang…
Terjalan secara berbeda mungkin tak asik…
Tapi indah…
Terjalan secara berbeda mungkin sakit…
Tapi berkah…
Sudah cukup untuk belajar sakit,
Tinggal bagaimana tuba menjadi rasa
dan jingga menjadi dahaga…
Hingga dunia kembali berputar,
searah jarum jam…

bunga nestapa

Sudah…
Gedung tempatmu bekerja runtuh oleh gempa…
Tak berarti menggandeng kekasihmu keluar adalah jasa…
sudah seharusnya…
Kau sendiri yang buat gempa,
Kau sendiri yang berkalung nestapa,
Kau sendiri yang lupa,
Kau sendiri, api membakar dupa…
Kau akhirnya sendiri…
Berbalut hati, bersama belati..
Lebih baik kau bunuh diri…