untukmu (kawan) …

Terindumu…
Aku ingin membuatmu bisu kembali,
Bernyanyi lagu mimpi kembali,
Mengawang dan mengharu kembali,
Memasak beras merah kembali,
dan kau menjadi miliku kembali,

Petang akan selalu datang,
Menyambut hati-hati yang sunyi,
Mengelus kerut dahi, kemudian membasuh embun dalam luapan emosi..
Pikirku besok akan usai,
Semampai dan menari-nari dalam bingkai imaji.
Kemudian berdansa didepan dunia…

Ternyata aku selalu salah sangka…

Advertisements

sudah…

Menginginkan membuang keluh adalah salah, kesah dan tak usah…
Kawatirkan matahari terbit itu perlu,
untuk mencipta hangat darah yang penuh sumpah serapah…
sampah…
Tak lelah mendengar ampun,
Kau ataukah aku yang (seharusnya) jadi raja?
Yang memimpin istana cita-cita nan nyata…
Yang memerintah rasa dan asa…
Aku bingung harus menyembah pada siapa,
Pada diri yang berdarah dan buta arah,
Atau pada diri yang ragu dan penuh candu…

menipu ragu…

memimpimu adalah berkah…
menimang kabut dalam senja gerimis,
melukis matahari yang terengah-engah meniup angin yang basah,
hingga berpeluh, dan matanya basah.
Harusnya bukan kesungguhanku yang jadi alasan,
harusnya cukup kamu,
yang meretas jemari menjadi sanubari, mengusap angkuh merengkuh berpeluh…
Maafku tak akan menunjukkan berani,
Pahamku tak akan menunjukkan belati.
Hingga sesuatunya tak akan sanggup lagi.
Berdiri.

semerbak duri

Menunggu sabtu candu,
malam minggu,
Aku rindu…
Sudah bermalam-malam minggu yang lalu,
Ucapmu dengan nada sendu,
Aku rindu…
Kerendahan kalbumu yang tak pernah ragu,
Aku rindu…
Mulut kecilmu yang selalu membisu,
Aku rindu…
Kerinduan rindumu yang selalu merdu,
Aku rindu…

gelagah wangi

Cintaa..
Kau kah yang aroma bunganya hilang itu?
Atau kah hidungku yang tertukar belutru?
Berantakanku bukan sebabmu,
Barantakanmu baru sebabku,
Aku hilang bersama gelang-gelang
Sambil menunjuk bintang,
yang sama sekali tak terang
Kemudian perang dengan awang-awang…
Aku bukan putus asa lagi,
Sudah lelah berlari,
Mencari nasi,
Basi…

Gairah

Sudah lama sekali sewaktu itu…
Bumi mengharu sewaktu hujan…
Langit menahan tangis sewaktu kemarau panjang…
Terjalan secara berbeda mungkin tak asik…
Tapi indah…
Terjalan secara berbeda mungkin sakit…
Tapi berkah…
Sudah cukup untuk belajar sakit,
Tinggal bagaimana tuba menjadi rasa
dan jingga menjadi dahaga…
Hingga dunia kembali berputar,
searah jarum jam…

bunga nestapa

Sudah…
Gedung tempatmu bekerja runtuh oleh gempa…
Tak berarti menggandeng kekasihmu keluar adalah jasa…
sudah seharusnya…
Kau sendiri yang buat gempa,
Kau sendiri yang berkalung nestapa,
Kau sendiri yang lupa,
Kau sendiri, api membakar dupa…
Kau akhirnya sendiri…
Berbalut hati, bersama belati..
Lebih baik kau bunuh diri…